Salah satu isu krusial yang diangkat pada kampanye pemanasan global melalui gerakan stop global warming yang begitu fenomenal adalah persoalan air bersih yang diperkirakan mengalami kelangkaan pada generasi beberapa puluh tahun mendatang. Jika tidak diantisipasi, anak-cucu kita akan mengalami kondisi dimana harga air bersih lebih mahal dari harga bahan bakar jenis apapun.

Beruntung, itu tidak akan terjadi mengingat saat ini kesadaran terhadap pentingnya lingkungan menggaung secara masif dimana-mana. Kita mulai disadarkan pentingnya menjaga ekosistem demi keberlangsungan kehidupan umat manusia, terutama ketersediaan air bersih bagi umat manusia. Tetapi apakah cara-cara yang dilakukan sudah benar?
Biasanya, dalam satu wilayah terdapat satu situ atau telaga sebagai media penampungan air saat mengalami kelimpahan air seperti hujan. Saat turun hujan air menggenang dan debitnya memenuhi dataran yang lebih rendah, jika debitnya melewati batas tampung otomatis air akan dialirkan ke sungai.
Masalahnya adalah air yang ada dalam situ atau air sungai yang dialirkan ke laut tidak terjadi penyerapan ke dalam tanah secara optimal. Akibatnya, selain daratan yang semakin menyempit juga ketersediaan air yang mengkhawatirkan.
Beberapa solusi mulai dijalankan seperti penanaman pohon karena dinilai mampu menyerap air ke dalam. Biopori juga mulai dibuat di beberapa ruas ruang terbuka demi menjaga ketersediaan air tanah. Tetapi tahukah Anda bahwa ada salah satu teknologi penyerapan air yang dapat bekerja secara maksimal? Jika dipasang di daerah terbuka, maka akan meningkatkan kandungan air tanah dan jika Jakarta mau menggunakannya inilah solusi dalam mengatasi banjir yang tak kunjung terpecahkan solusinya. Alat ini dapat bekerja secara maksimal dalam penyerapan air ke dalam tanah. Alat atau teknologi ini bernama KONATA.
Dirancang dan didesain oleh Zantar Ambadar, KONATA mampu menyerap air dengan volume yang maksimal dan mampu pula menyerap air ke dalam tanah dengan cepat dibandingkan biopori. Tentu saja, metode ini cukup efektif mengatasi banjir karena air di atas permukaan tanah tidak akan tergenang dalam waktu lama.

Bentuk dari KONATA berupa lubang berdiameter 1 m dengan kedalaman yang beragam, 4 m dari permukaan merupakan kedalaman yang cukup efektif. Di permukaan, bagian atas, terdapat lubang yang dilindungi dengan jaring desain khusus KONATA untuk menahan tekanan tanah dan turbulensi air masuk. Lubang pada bagian atas bisa terdiri dari 1, 2, 3 atau lebih lubang tergantung dari luas lahan yang tersedia.
Dengan merogoh kocek 4 jutaan, KONATA mampu bekerja setiap kali musim penghujan datang sepanjang tahun. Atas temuannya tersebut Zantar Ambadar menerima penghargaan sebagai finalis pada pagelaran “The 2001 Global Social Venture Competition, University of California, Barkeley” pada tahun 2010.